Laman

Selasa, 30 April 2013

Sosiologi Pedesaan dan Pertanian



I.              PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Masyarakat (society) merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan komuniti manusia yang tinggal bersama-sama. Boleh juga dikatakan masyarakat itu merupakan jaringan perhubungan antara berbagai individu.
Perkataan society datang daripada bahasa Latin societas, "perhubungan baik dengan orang lain". Perkataan societas diambil dari socius yang berarti "teman", maka makna masyarakat itu adalah berkait rapat dengan apa yang dikatakan sosial. Ini bermakna telah tersirat dalam kata masyarakat bahawa ahli-ahlinya mempunyai kepentingan yang sama. Maka, masyarakat selalu digunakan untuk menggambarkan rakyat sebuah negara.
Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur. Dimana sebagian besar interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut. Melihat dari berbagai aspek kehidupan yang terjadi di masyarakat pada saat ini, masih terjadinya beberapa fenomena pergeseran nilai, norma serta adat istiadat kaitannya dengan pemahaman tentang masyarakat desa dan kota. Hal tersebut dapat ditinjau dari ilmu sosiologi, dimana yang menjadi obyek adalah masyarakat yang dilihat dari hubungan antar manusia, dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.

1.2.       Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adaah untuk mengetahui mengenai sosiologi, sosiologi pedesaan dan sosiologi pertanian.


II.           PEMBAHASAN
2.1.        Sosiologi
Istilah sosiologi berasal dari kata “Socius” yang artinya teman dan logos dalam bahasa Yunani yang artinya Ilmu Pengetahuan.
Secara harfiah berarti Sosiologi adalah Ilmu Pengetahuan yang mempelajari hubungan antar teman.
Istilah Sosiologi pertama kali digunakan oleh seorang filosop dan Prancis yang bernama Auguste Marie Francois Comte yang terkenal dengan sebutan Auguste Comte dalam bukunya “Course de Philosophie Positive” pada tahun 1978-1857. Karena jasanya maka Auguste Comte disebut sebagai Bapak Sosiologi.
Berikut ini akan diuraikan beberapa difenisi sosiologi menurut para ahli sosiologi :
1.    Pitirim A. Sorokin menjelaskan bahwa Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hal-hal seperti: Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial. Misalnya antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, dan gerak masyarakat dengan politik.
2.    Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, dua orang Indonesia ahli Sosiologi ini berpendapat bahwa Sosiologi ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
Objek dalam studi mengenai sosiologi adalah masyarakat.
Masyarakat (society) merupakan istilah yang digunakan untuk menerangkan komuniti manusia yang tinggal bersama-sama. Boleh juga dikatakan masyarakat itu merupakan jaringan perhubungan antara berbagai individu.
Ciri-ciri masyarakat :
1)   Bercampur untuk waktu yang cukup lama.
2)   Mereka sadar bahwa mereka merupakan suatu kesatuan.
3)   Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama. sistem kehidupan bersama menimbulkan kebudayaan karena setiap anggota kelompok merasa dirinya terikat satu dengan yang lainnya.
2.2.       Sosiologi Pedesaan
Pada hakikatnya, terdapat dua versi sosiologi pedesaan yaitu versi klasik dan modern. Definisi sosiologi pedesaan versi modern merupakan tuntutan perkembangan dari sosiologi pedesaan di negara-negara kapitalis-industri modern. Karena dinegara-negara ini telah terjadi perubahan dan perkembangan drastis (khususnya yang terjadi dipedesaan) maka semakin dirasakan kurang tepatnya sosiologi pedesaan lama sebagai kerangka pemahaman terhadap masyarakat pedesaan yang telah berkembang itu. Perubahan yang sangat mendasar dinegara-negara itu adalah semakin menipisnya perbedaan antara desa dan kota dalam pelbagai aspeknya.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap mengenai pengertian definitif sosiologi pedesaan, berikut ini diuraikan beberapa definisi versi klasiknya :
a)    Menurut John M. Gillete (1922:6) sosiologi pedesaan adalah cabang sosiologi yang secara sistematik mempelajari komunitas-komunitas pedesaan untuk mengungkapkan kondisi-kondisi serta kecenderungan-kecenderungannya dan merumuskan prinsip-prinsip kemajuan.
b)   Menurut N.L. Sims (dalam D. Sanderson, 1942:200) sosiologi pedesaan adalah studi tentang asosiasi antara orang-orang yang hidupnya banyak tergantung pada pertanian.
c)    Menurut Dwight Sanderson (1942:10) sosiologi pedesaan adalah sosiologi tentang kehidupan dalam lingkungan pedesaan.
Keseluruhan definisi-definisi tentang sosiologi pedesaan diatas merupakan definisi sosiologi pedesaan lama (klasik), yakni tatkala keadaan di Barat secara umum masih memperlihatkan perbedaan yang jelas antara kawasan desa dan kotanya. Setelah era globalisasi, perbedaan antara desa dan kota semakin kabur oleh perkembangan teknologi, khususnya teknologi transportasi dan komunikasinya, maka sosiologi pedesaan  memiliki pemahaman yang berbeda dari pemahaman yang lama (klasik).
Maka sosiologi pedesaan pada era globalisasi ini berbeda dari pendekatan sosiologi lama, sebagaimana dikemukakan oleh Howard Newbie (1978:6) bahwa sosiologi pedesaan yang baru hendaknya merupakan studi tentang bagaimana masyarakat desa (bukan hanya desa pertanian) menyesuaikan diri terhadap merasuknya sistem kapitalisme modern ditengah kehidupan mereka.
Contoh kasus :
Masyarakat pedesaan masih kuat dalam memegang kebudayaan dan adat kebiasaan mereka. Mereka lebih preventif terhadap kebudayaan asing yang masuk. Hal ini membuat kultur adat kebiasaan mereka sangat kental dalam berinteraksi, mungkin hal ini pula yang dulunya membuat bangsa Indonesia menjadi salah satu negara yang paling ramah tamah di dunia dahulu kala. Pola interaksi mereka sangat kuat hubungan kekeluargaannya.
Contoh apabila ada yang terkena musibah pada suatu individu pada pedesaan, tetangga umumnya akan datang dan menanyakan apa yang sedang terjadi dan membantu mereka. Hal ini bukan pula tidak ada di masyarakat kota tetapi intensitasnya cenderung rendah dalam masyarakat perkotaan.


2.3.       Sosiologi Pedesaan dan Sosiologi Perkotaan
Diantara sekian spesialisasi sosiologi yang ada, sosiologi pertanian (urban sociology) merupakan spesialisasi yang sangat dekat atau sangat berkaitan dengan sosiologi pedesaan.
Masyarakat pedesaan dan perkotaan bukanlah dua komunitas yang terpisah sama sekali satu sama lain. Bahkan dalam keadaan yang wajar diantara keduanya terdapat hubungan yang erat. Bersifat ketergantungan, karena diantara mereka saling membutuhkan. Kota tergantung dalam memenuhi kebutuhan warganya akan bahan-bahan pangan seperti beras sayur mayur , daging dan ikan. Desa juga merupakan sumber tenaga kasar bagi jenis pekerjaan tertentu dikota. Misalnya saja buruh bangunan dalam proyek perumahan. Proyek pembangunan atau perbaikan jalan raya atau jembatan dan tukang becak. Mereka ini biasanya adalah pekerja musiman. Pada saat musim tanam mereka, sibuk bekerja di sawah. Bila pekerjaan dibidang pertanian mulai menyurut, sementara menunggu masa panen mereka merantau ke kota terdekat untuk melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia.
Sebaliknya, kota menghasilkan barang-barang yang juga diperlukan oleh orang desa seperti bahan-bahan pakaian, alat dan obat-obatan pembasmi hama pertanian, minyak tanah, obat-obatan untuk memelihara kesehatan dan alat transportasi. Kota juga menyadiakan tenaga-tenaga yang melayani bidang-bidang jasa.
Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.
Contoh kasus :
Dengan adanya hubungan masyarakat desa dan kota  yang saling ketergantungan dan saling membutuhkan tersebut maka timbulah masalah baru yakni urbanisasi.
Urbanisasi yaitu suatu proses berpindahnya penduduk dari desa ke kota atau dapat pula dikatakan bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan.
Sebab-sebab Urbanisasi
1)   Faktor-faktor yang mendorong penduduk desa untuk meninggalkan daerah kediamannya, seperti :
a)    Bertambahnya penduduk sehingga tidak seimbang dengan persediaan lahan pertanian.
b)   Terdesaknya kerajinan rumah di desa oleh produk industri modern.
c)     Penduduk desa, terutama kaum muda, merasa tertekan oleh oleh adat istiadat yang ketat sehingga mengakibatkan suatu cara hidup yang monoton.
d)    Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan.
e)    Kegagalan panen yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti banjir, serangan hama, kemarau panjang, dsb. Sehingga memaksa penduduk desa untuk mencari penghidupan lain dikota.
2)   Faktor-faktor yang ada dikota yang menarik penduduk desa untuk pindah dan menetap dikota, seperti :
a)    Penduduk desa kebanyakan beranggapan bahwa dikota  banyak pekerjaan dan lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan.
b)   lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan usaha kerajinan rumah menjadi industri kerajinan.
c)     Pendidikan terutama pendidikan lanjutan, lebih banyak dikota dan lebih mudah didapat.
d)    Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam kultur manusianya.


2.4.       Sosiologi Pedesaan dan Sosiologi Pertanian
Sejarah sosiologi pertanian dimulai  di Perancis dan Jerman pada akhir abad 18 dan 19 yaitu sejak banyaknya negarawan dan polisi, penyair dan filsuf serta ahli sosiologi mengeluarkan pendapat mengenai rakyat desa.
Setelah Perang Dunia II, sosiologi pertanian bangkit di negara-negara Eropa terutama di Belanda, Prancis, Norwegia, Inggris, Itali.
Di semua negara-negara Timur, paling lambat sejak tahun 1960-an sosiologi pertanian naik daun.
Sosiologi pertanian dikenal di Amerika Latin setelah PD II. Muncul sebagai prodi di Meksiko, Brasilia, dan Chili. Tahun 1969 didirikan perhimpunan sosiologi pedesaan Amerika Latin
Konferensi regional Asia untuk penelitian dan pengajaran sosiologi pedesaan di Los Banos Filipina (1971) merupakan langkah pertama di Asia Tenggara yang bersifat internasional.
Sosiologi pedesaan merupakan suatu studi yang melukiskan hubungan manusia di dalam dan antar kelompok yang ada di lingkungan pedesaan.
Menurut Ulrich Plank (terjemahan, 1990:4) sosiologi pertanian membahas fenomena sosial dalam bidang ekonomi pertanian.
Perbedaan sosiologi pedesaan dan sosiologi pertanian :
Menurut planck (1993:3) sosiologi pertanian (agricultural sociology) sering disamakan dengan sosiologi pedesaan (rural sociology). Tetapi ini hanya berlaku jika penduduk desa terutama hidup dari pertanian saja. Semakin sedikit kehidupan penduduk di desa ditandai oleh kegiatan pertanian, semakin pantas sosiologi pertanian dipisahkan dari sosiologi pedesaan.
Sosiologi pedesaan dapat disamakan dengan sosiologi pertanian hanya sejauh bila suatu penduduk desa terutama hidup dari pertanian saja. Dalam masyarakat pra-industri desa-desa umumnya sangat tergantung pada sektor pertanian. Pada desa-desa dalam masyarakat industri modernn atau yang sedang berkembang dalam hal ke arah modern, sektor pertanian tidak menjadi dominan lagi. Bahkan ada diantaranya yang peranan sektor pertaniannya sedikit sekali , sering hanya sepersepuluh atau bahkan kurang dari seluruh penduduk desa. Dalam situasi seperti ini, maka objek sosiologi pertanian dan sosiologi pedesaan perlu dipisahkan.
Objek sosiologi pedesaan adalah seluruh penduduk pedesaan yang terus menerus menetap didesa, sedangkan, sedangkan objek sosiologi pertanian adalah penduduk yang bertani tanpa memperhatikan tempat tinggalnya.


III.        KESIMPULAN
Sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari hal-hal seperti: Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala sosial. Misalnya antara gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, dan gerak masyarakat dengan politik. Objek dalam studi mengenai sosiologi adalah masyarakat.
Sosiologi pedesaan lama (klasik), yakni tatkala keadaan di Barat secara umum masih memperlihatkan perbedaan yang jelas antara kawasan desa dan kotanya. Setelah era globalisasi, perbedaan antara desa dan kota semakin kabur oleh perkembangan teknologi, khususnya teknologi transportasi dan komunikasinya, maka sosiologi pedesaan  memiliki pemahaman yang berbeda dari pemahaman yang lama (klasik).
Maka sosiologi pedesaan pada era globalisasi ini berbeda dari pendekatan sosiologi lama, sebagaimana dikemukakan oleh Howard Newbie (1978:6) bahwa sosiologi pedesaan yang baru hendaknya merupakan studi tentang bagaimana masyarakat desa (bukan hanya desa pertanian) menyesuaikan diri terhadap merasuknya sistem kapitalisme modern ditengah kehidupan mereka.
Diantara sekian spesialisasi sosiologi yang ada, sosiologi pertanian (urban sociology) merupakan spesialisasi yang sangat dekat atau sangat berkaitan dengan sosiologi pedesaan.
Hubungan kota-desa cenderung terjadi secara alami yaitu yang kuat akan menang, karena itu dalam hubungan desa-kota, makin besar suatu kota makin berpengaruh dan makin menentukan kehidupan perdesaan.
Menurut planck (1993:3) sosiologi pertanian (agricultural sociology) sering disamakan dengan sosiologi pedesaan (rural sociology). Tetapi ini hanya berlaku jika penduduk desa terutama hidup dari pertanian saja. Semakin sedikit kehidupan penduduk di desa ditandai oleh kegiatan pertanian, semakin pantas sosiologi pertanian dipisahkan dari sosiologi pedesaan.




DAFTAR PUSTAKA

Rahardjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan dan Pertanian. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Mustafa Ibrahim. 2012. Masyarakat Pedesaan. Diunduh dari http://mustafadroid.blogspot.com/2012/06/masyarakat-pedesaan.html (diakses 20 Desember 2012)
http://amandasialoone.blogspot.com/2011/12/interaksi-sosial-masyarakat-pedesaan.html
Iman.2011. Interaksi Sosial Masyarakat Desa. Diunduh dari  http://amandasialoone.blogspot.com/2011/12/interaksi-sosial-masyarakat-pedesaan.html (diakses 20 Desember 2012)
Soekanto, Soerjono. 2010. Sosiologi Suatu Pengantar. Raja Grafindo Persada, Jakarta






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar